Selasa, 30 Desember 2014

TREATMENT KESULITAN BELAJAR

TREATMENT KESULITAN BELAJAR DI BIMBINGAN DAN KONSELING BELAJAR 



                           Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu:
1.        Identifikasi Masalah

                               Pada langkah ini yang harus diperhatikan adalah mengenal gejala-gejala awal dari suatu masalah yang dihadapi siswa. Maksud dari gejala awal disini adalah apabila siswa menujukkan tingkah laku berbeda atau menyimpang dari biasanya. Untuk mengetahui gejala awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan memperhatikan gejala-gejala yang nampak, kemudian dianalisis dan selanjutnya dievaluasi. Apabila siswa menunjukkan tingkah laku atau hal-hal yang berbeda dari biasanya, maka hal tersebut dapat diidentifikasi sebagai gejala dari suatu masalah yang sedang dialami siswa.
                               Dari artikel yang berjudul “Susahnya Mengajari Anak Berhitung” dapat dijadikan salah satu contoh kesulitan belajar pada anak. Kesulitan atau masalah yang ada pada anak diartikel ini adalah ia sulit untuk belajar berhitung, dimana siswa tersebut tidak juga paham bahkan cenderung tidak ingat dengan apa yang baru dipelajari meskipun sudah dijelaskan bagaimana cara berhitung oleh guru ataupun orang tua.
                                Pada dasarnya setiap anak memiliki bakat tertentu dalam bidang kecerdasan, yang terdiri dari beberapa macam kecerdasan dan salah satunya adalah kecerdasan logika-berhitung. Jika anak ternyata tidak memiliki bakat dalam berhitung atau metematika maka ia membutuhkan waktu lama untuk bisa memahami apa yang sudah di jelaskan oleh guru ataupun orangtua. Umumnya, anak-anak yang mengalami masalah dalam kegiatan berhitung tidak dapat mengingat apa yang sudah ia pelajari walaupun sudah diberikan penjelasan berulang-ulang.
Untuk itu perlu diberikan penanganan atau tindakan lanjut dari masalah / kesulitan belajar berhitung yang ada pada anak. Sebelum memberikan bantuan untuk memecahkan masalah yang ada pada anak, sebaiknya kita harus mengetahui faktor-faktor apa saja yang telah mempengaruhi / melatarbelakangi kesulitan belajar berhitung pada anak tersebut.


2.        Diagnosis (Latar Belakang Masalah)

                                         Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. Burton (1952) mengelompokkan secara sederhana ke dalam dua kategori faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu :

a)    Faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan
b)   Faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.

                                       Dalam masalah atau kesulitan belajar berhitung pada anak, terdapat beberapa penyebab dari faktor internal (bersumber dari dalam diri anak) dan faktor internal (bersumber dari luar diri anak), sebagai berikut :

1)   Faktor internal / faktor yang terdapat dalam diri anak, antara lain :
-          Learning disability / gangguan dalam belajar
Ini merupakan salah satu faktor penyebab anak kesulitan belajar dan memahami pelajaran berhitung. Perlu adanya evaluasi dari praktisi atau profesional seperti psikolog untuk menganalisa kemungkinan adanya gangguan belajar pada anak.
-          Minat belajar belum berkembang optimal
Perkembangan kemampuan anak terhadap suatu tugas dipengaruhi oleh minat belajar. Jika anak tidak memiliki minat yang dominan pada bidang berhitung maka akan berpengaruh pada kualitas atau prestasi belajarnya.
-          Kemampuan dasar anak dalam memahami konsep angka masih kurang berkembang
Hal ini dapat terjadi jika anak belum mengenal konsep angka-angka dengan baik sejak usia dini. Selain itu, kemampuan anak dalam menulis juga masih belum benar sehingga secara keseluruhan anak kesulitan menyerap materi dan memberikan respon terhadap pelajaran yang menuntut kemampuan berhitung.
-          Masalah konsentrasi
Perhatian anak cepat teralih pada hal-hal lain di luar tugas-tugas yang diberikan . Sehingga ketika dihadapkan pada tugas berhitung, anak cenderung tidak akan bertahan lama dalam menyerap dan memberikan respon belajar.

2)   Faktor eksternal / faktor yang terletak di luar diri siswa (situasi keluarga, sekolah, dan masyarakat), antara lain :
-          Pola asuh yang otoriter
Mempengaruhi perkembangan kamampuan berpikir anak, salah satunya kemampuan berhitung. Jika orang tua memiliki standar standar atau tuntutan yang tinggi, maka anak menjadi tidak percaya diri dalam menunjukkan kinerjanya. Ia merasa cemas kareana takut melakukan kesalahan dan hal ini dapat mempengaruhi kemampuan otak dalam menyerap pelajaran yang kompleks.
-          Cara belajar tidak konsisten
Hal ini terjadi jika orang tua hanya memperhatikan hasil akhir yaitu nilai yang bagus dalam pelajaran berhitung tanpa memperhatikan proses anak memahami materi yang diajarkan.
-          Penggunaan alat bantu yang kurang efektif
Orang tua terkadang menerapkan cara belajar yang kurang tepat pada anak misalnya berhitung dengan menggunakan jari jemarinya tetapi terbatas sampai penjumlahan 10, sehingga ketika dihadapkan pada tugas berhitung di atas 10 anak akan mengalami kesulitan. Alat bantu sangat penting bagi anak terutama bagi yang baru belajar dasar-dasar operasi bilangan. Beberapa alat bantu yang dapat digunakan antara lain flash card (kartu pintar), puzzle angka, sempoa, dan lain-lain.

3.        Prognosis (Usaha Pemberian Bantuan)
                                         Langkah prognosis ini guru menetapkan alternatif tindakan bantuan yang akan diberikan. Selanjutnya melakukan perencanaan mengenai jenis dan bentuk masalah apa yang sedang dihadapi anak.
Prognosa artinya: “ ramalan ”. Dalam “Prognosa” ini antara lain akan ditetapkan mengenai bentuk “treatment” (perlakuan) sebagai follow up dari dari diagnosa. Dalam hal ini dapat berupa bentuk treatment yang harus diberikan, Bahan/materi yang diperlukan, Metode yang akan dipergunakan, Alat-alat bantu belajar mengajar yang diperlukan, Waktu ( kapan kegiatan itu dilaksanakan). Pendek kata, prognosis adalah merupakan aktivitas penyusunan rencana/program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak.Pada kasus kesulitan belajar berhitung anak, maka akan dibuat alternatif tindakan bantuan, seperti berikut :
·         Mengenalkan konsep berhitung melalui kegiatan bermain
·         Guru dan orang tua bersikap positif terhadap aktivitas berhitung
·         Pastikan bahwa anak sudah memahami konsep angka dengan benar
·         Melatih kemampuan berhitung dari hal yang sederhana dan konkrit terlebih dahulu
·         Bermain
·         Remedial Teaching
·         Konsisten dalam menerapkan disiplin belajar
Kemungkinan masalah kesulitan belajar berhitung pada anak bisa diselesaikan, maka :
-          anak akan mempunyai minat yang dominan pada pelajaran berhitung.
-          kemampuan dasar anak dalam memahami konsep angka dapat berkembang.
-          anak akan lebih bisa konsentrasi dengan baik dalam belajar berhitung.
-          kualitas dan prestasi anak akan meningkat dengan hasil yang memuaskan.

4.        Treatment (Pemberian / Pelaksanaan Bantuan)

                                            Perlakuan di sini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah disusun.
Tujuan dari tahap pemberian bantuan ini adalah untuk memberikan bantuan kepada siswa agar dapat menyelesaikan masalah kesulitan belajarnya sehingga dapat mencapai hasil yang optimal dan penyesuaian yang sehat. Setelah diketahui masalah siswa, faktor-faktor penyebab timbulnya masalah serta kemungkinan jika masalah siswa diatasi dan tidak diatasi maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan langkah inti yaitu pemberian bantuan (treatment).
Langkah-langkah untuk membantu anak dalam memecahkan masalah, sebagai berikut :
·         Masalah yang dihadapi anak :
-       Minat anak dalam belajar berhitung kurang sehingga menyebabkan anak sulit untuk belajar berhitung.
·         Bantuan yang diberikan / dilaksanakan
Adapun bantuan yang dapat diberikan / dilaksanakan,sebagai berikut :
1)      Langkah pertama kita sebagai orang tua atau guru harus membuat minat anak dalam belajar berhitung menjadi berkembang, sehingga ia dapat belajar berhitung dengan menyenangkan.
-       Mengenalkan konsep berhitung pada anak melalui kegiatan bermain
Melalui kegiatan bermain anak merasa tidak ada unsur keterpaksaan untuk mengenal konsep angka. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuannya dalam melakukan aktivitas berhitung yang kompleks di masa yang akan datang. Cara yang dapat dilakukan misalnya bermain lompat tali sambil berhitung, menyusun mobil-mobilan sambil berhitung, atau mengajari konsep angka dengan lagu.
-       Bermain
Merupakan salah satu cara melatih ketertarikan anak pada kegiatan berhitung, misalnya teka-teki dalam bentuk cerita pendek, seperti “Ibu punya boneka 3, terus hilang 2. Jadi tinggal berapa ya?”. Bantu anak untuk memahami ketika ia terlihat kesulitan, bila perlu gunakan alat bantu untuk membantu anak memahami konsep berhitung yang disajikan dalam bentuk serita.
2)      Langkah kedua, setelah minat anak sudah dominan untuk belajar berhitung, kita dapat melatih sedikit demi sedikit kemampuan berhitung anak. Bantuan / tindakan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
-       Melatih kemampuan berhitung dari hal yang sederhana dan konkrit terlebih dahulu.
Gunakan fasilitas yang ada di sekeliling rumah untuk merangsang kemampuan berhitung anak, misalnya menghitung berapa banyak kursi yang ada dirumah, menghitung banyaknya benda berwarna biru , menghitung berapa banyak bantal dikamar, dan lain sebagainya.
-       Pastikan bahwa anak sudah memahami konsep angka dengan benar.
Sebelum belajar untuk melakukan operasi penjumlahan. Misalnya mengurutkan angka dari 1 sampai 10 dan juga mampu untuk menghitung mundur. Pastikan juga bahwa ia dapat menulis angka dengan benar.
-       Orang tua bersikap positif terhadap aktivitas berhitung
Orang tua yang menunjukkan sikap antusias dan tertarik pada bidang hitung menghitung cenderung berpengaruh positif terhadap anak-anak mereka. Anak-anak lebih percaya diri dalam belajar karena merasa orang tua selalu mendukung dan berada disampingnya jika ia dalam kesulitan. Orang tua seperti ini umumnya tidak akan memaksakan anak dan tidak menetapkan tuntutan yang tinggi karena segala sesuatu berorientasi pada anak-anak.
-       Konsisten dalam menerapkan disiplin belajar
Jangan pernah berharap anak menguasai pelajaran berhitung bila pola belajarnya tidak konsisten. Usahakan anak belajar dalam situasi tenang agar dia bisa berkonsentrasi tinggi, serta minimalkan gangguan yang ada misalnya matikan TV atau radio saat anak sedang belajar.


5.        Follow Up (Tindak Lanjut)

                                                     Tahap ini merupakan kegiatan lanjutan setelah semua tahapan diatas selesai dilakukan. Follow up berguna untuk melihat sejauh mana keberhasilan pemberian bantuan melalui proses studi kasus yang telah berlangsung. Juga sebagai upaya pemeliharaan yang dikembangkan oleh anak supaya mampu mengatasi masalahnya.
Bantuan yang telah diberikan kepada anak tidak akan berhasil tanpa tindak lanjut atau Follow Up. Untuk  mencapai  keberhasilan  bantuan  yang  akan  diberikan memerlukan waktu yang lama. Untuk itu perlu diadakan kerjasama dengan pihak lain, yaitu guru BP/BK, guru wali kelas, dan juga guru-guru pengajar. Dan karena keterbatasan waktu maka praktikan tidak dapat melakukan follow up (tindak lanjut) ini sendiri melainkan diserahkan kepada pihak yang lebih berwenang. Melalui kegiatan tindak lanjut dari pemberian bantuan diharapkan anak dengan cepat dapat mengatasi masalahnya dan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

Adapun kegiatan follow up (tindak lanjut) yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan dua pendekatan, sebagai berikut :
a)      Pendekatan pertama, yaitu penanganan matematika yang intensif, dapat kita lakukan dengan teknik “individualisasi yang dibantu tim”. Pendekatan ini menggunakan pengajaran secara privat dengan teman sebaya (peer tutoring). Pendekatan ini mendasari tekniknya pada pemahaman bahwa kecepatan belajar seorang anak berbeda-beda, sehingga ada anak yang cepat menangkap, dan ada juga yang lama. Teknik ini mendorong anak yang cepat menangkap materi pelajaran agar mengajarkannya pada temannya yang lain yang mengalami kesulitan belajar berhitung tersebut.
b)      Pendekatan kedua, yaitu Remedial Teaching, dapat dilakukan dengan meminta bantuan profesional seperti psikolog atau terapi jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa anak mengalami gangguan konsentrasi ataupun gangguan belajar lainnya. Dengan kegiatan ini kita sebagai orang tua akan dilatih sesuai dengan kemampuan dan kemauan anak sehingga tidak ada unsur paksaan dalam belajar.

6.        Evaluasi

                                        Evaluasi di sini dimaksudkan untuk mengetahui, apakah treatment yang telah diberikan di atas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau bahkan gagal sama sekali. Kalau ternyata treatment yang diterapkan tersebut tidak berhasil maka perlu ada pengecekan kembali ke belakang, faktor-faktor apa yang mungkin menjadi penyebab kegagalan treatment tersebut.
Alat yang digunakan untuk evaluasi ini dapat berupa Tes Prestasi belajar (Achievement Test). Untuk mengadakan pengecekan kembali atas hasil treatment yang kurang berhasil, maka secara teorotis langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah
Pada masalah kesulitan belajar berhitung anak, jika treatment (usaha pemberian / pelaksanaan bantuan) dilaksanakan atau diterapkan dengan baik sesuai langkah-langkah yang diberikan dan anak mengalami perubahan atau perkembangan yang baik dalam pelajaran berhitungnya, maka dapat dinyatakan bahwa treatment tersebut berhasil.
Untuk mengetahui lebih jelasnya apakah berhasil atau tidaknya treatment (pemberian / pelaksanaan bantuan) yang sudah diterapkan, maka kita dapat melakukan evaluasi (penilaian) yang berupa tes prestasi belajar, misalnya kita dapat memberikan soal kepada anak sesuai dengan pelajaran yang sudah ia pelajari. Apabila anak mendapat peningkatan dari tes sebelum perbaikan / penyembuhan masalah dilakukan, minimal anak harus bisa menjawab soal dengan benar mencapai 60 %, maka anak akan dinyatakan berhasil dan mengalami perkembangan yang baik dalam mengatasi masalah kesulitan belajar berhitungnya tersebut. Tetapi, apabila anak tidak dapat menjawab soal dengan benar maka anak dinyatakan tidak mengalami perkembangan dan masih belum berhasil dalam memecahkan masalahnya. Jika anak masih belum berhasil dalam mengatasi masalah kesulitan belajar berhitungnya, maka kita sebagai guru ataupun orang tua dapat memberikan follow up (tindak lanjut) sebagai langkah berikutnya untuk mengatasi masalah anak dari ketidakberhasilan pada tahap treatment yang sudah dilaksanakan. Jika masih belum berhasil juga dari penerapan tindak lanjut yang telah diberikan, maka kita harus mengadakan pengecekan kembali atas hasil treatment dan juga tindak lanjut yang kurang berhasil. Pengecekan ulang dapat dimulai dari Re-Ceking data (baik pengumpulan maupun pengolahan data). Re-Diagnosa, Re-Prognosis, Re-Treatment, Re-Follow up dan Re-Evaluasi.

0 komentar:

Posting Komentar

untuk penyempurnaan blog ini silahkan tambahkan saran dan komentar yang membangun